Dakwah itu Jalan Cinta


Ketika bangun di sepertiga akhir malam, yang ada di pikiran hanya umat, umat, dan umat, maka berjalan dan berjuanglah di jalan dakwah.

Ulurkan tangan indahmu membantu umat, agar mereka mampu  menikmati  terangnya sinar mentari, cahaya rembulan, dan gemerlapnya bintang gemintang. Itulah jalan dakwah.

Bayangkan, di Yaumul Hisab kelak, kita tidak mungkin berdiri di hadapan Rabb, ketika ditanya tentang sikap diam kita ketika hukum-hukum Allah dicampakkan. Ketika Islam tidak dijadikan pemutus perkara di tengah kehidupan. Ketika Islam terasing di pojok-pojok sempit kehidupan, sebatas etika, moral, dan spritual.

Tentu tidak selesai dengan mengelus dada dan mengeluarkan air mata, maka tempuhlah jalan dakwah.

Suasana Islami perlu diwujudkan, agar dapat mendekatkan diri kepada Ilahi, dan melakukan perubahan secara rinci.

Arahkan upaya terbaik dalam mentauhidkan Allah Subhanahu Wata'ala, menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Menjadikan Islam pedoman hidup di dunia. Menggapai Ridha Allah Subhanahu Wata'ala pada seluruh tindakan nyata. Untuk itu mesti ada jalan dakwah.

Tiada kebangkitan dengan berpangku tangan. Tiada kesuksessan tanpa perjuangan.Tetaplah berseru ketika fajar, siang, dan sore hari. Agar jalan mulia ini tak sepi, meskipun banyak tak peduli. Engkau sering ditinggal sendiri dan semakin sepi.

Pada batas sepi itu, engkau akan mengerti bahwa jalan ini akan terasa sunyi. Peminatnya tidak sebanyak pengunjung festival di musim semi. Itulah jalan dakwah.

Di sudut sunyi itu, engkau akan semakin paham, betapa indahnya aturan Pencipta. Betapa tidak berharganya dunia dibandingkan perniagaan terindah dengan Penguasa Jagat Raya. QS. At-Taubah: 111

Di sudut itu juga, engkau akan paham, inilah panggung termegah untukmu berkiprah. Panggung itu tidak akan pernah diberikan manusia, hanya Rabb yang memilihmu dan mengizinkanmu, sambutlah dengan segenap iman, pikiran, dan rasa suka cita. Sebab  itulah jalan dakwah.

Di tengah sepi itu, engkau akan menghayati peristiwa ketika  Rasulullah Shalallahu'Alaihi  Wasallam di  Kota Thaif. Di tengah kejumudan, beliau mencari pendukung, namun tidak berhasil, malah disaambut dengan hinaan dan lemparan batu. 

Muhammad bin Ka'ab al-Qurzhi melalui jalur 'Abdullah bin Ja'far menuturkan bahwa Rasulullah berdo'a:

"Allahumma,  Ya Allah aku mengadukan kepada-Mu kelemahan kekuatanku, kekurangan daya upayaku, dan kerendahanku di hadapan manusia. Duhai Dzat Yang Maha Pengasih di atas semua Pengasih. Engkau adalah Rabb orang-orang yang tertindas dan Rabbku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku? Kepada hamba yang akan menerimaku ataukah kepada musuh hingga aku menyerahkan urusan (agama)ku kepadanya. Apakah Engkau tidak marah kepadaku, hal itu tidak masalah bagiku. Akan tetapi sesungguhnya ampunan-Mu untukku jauh lebih luas. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang mampu menyinari kegelapan, dan menjadikan baik urusan kehidupan dunia  dan akhirat dari kemarahan-Mu kepada diriku atau dari kemurkaan-Mu kepadaku. Hak-Mulah untuk menegurku sampai Engkau menridhaiku. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu (HR. IBN Hisyam al-Baghawi dan Ath-Thabrani).

Jalan  itu, adalah jalan yang membuatmu percaya, bahwa bekal yang kamu bawa tidak akan pernah cukup. Jalan itu dikepung hubbuddunya, lengkap dengan segala ketakutan, kekawatiran, dan ancaman. Jalan itu menyampaikan pada pemahaman, para pejuang kebenaran, para da'i dan daiyah itu mulia di sisi Rabbnya. Sebab mereka paham, tatkala orang nyaman dalam kegelapan, sementara mereka terus menjemput dan menyebarkan cahaya.

Mencoba untuk terus berjalan.  Ketika kesunyian menyelimuti diri, tatap langkahmu karena itu bukti engkau di jalan yang benar.  Sebab jalan menuju Allah selalu sepi peminat. Tidak banyak yang mau memilih itu, dengan berbagai argumentasi khas manusia. 

Teruslah berjalan, terimalah, dan berdamailah dengan diri sendiri. Bahagiakan hati dan kuatkan langkah dengan sujud-sujud panjang di sepertiga akhir malam. Dengan cara itu, engkau sadar sedang berada di jalan  dakwah.

Dakwah itu Jalan Cinta

Dakwah adalah jalan cinta. Jalan yang pernah di tempuh para Nabi dan Rasul, orang-orang shalih sepanjang sejarah. Jalan perindu jannah dengan kerinduan membuncah. Untuk bertemu Rabb Pencipta dan Penguasa alam semesta.

Dakwah bukan selingan, settingan, atau pencitraan agar engkau dianggap baik dalam ketaqwaan. Namun dakwah jalan utama menuju gerbang kejayaan peradaban penuh keberkahan. Dakwah jalan cinta dengan segudang kegiatan utama, sebagai konsekuensi keimanan terhadap Allah, para malaikat, kitab, qadha dan qadar, serta hari pembalasan.

Dakwah Meminta Segalanya

Ketika keputusan dan janji terpatri di hati. Mengintegrasikan diri sepenuh hati, tanpa tapi, nanti, dan tanpa opologi. Menghidupkan ruh jama'i. Tatkala itu harus siap memberikan dan berkorban sepenuh energi. Stamina, ilmu, harta, uang, dan materi. Bahkan siap untuk memberikan jiwa demi cinta Ilahi. Demi tegakkan risalah Ilahiyah dan nubuwah di muka bumi. Sebab itulah keberuntungan abadi. Di situ pula, gelar umat terbaik terealisasi. 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [QS al-Imran (3): 104]

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” [TQS al-Imran (3): 110]

Terus motivasi diri, dan ikhlas di jalan dakwah. Intensifkan tasqif dengan Lillah. Menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan, memang tidak mudah. Butuh kerja keras, strategi jitu, skill terus ditambah, dan segenap daya dan upaya. 

Dakwah Jalan Ilmu dan Hujjah

Jalan dakwah adalah jalan di atas ilmu dan hujjah. Jalan untuk menyampaikan kepada manusia berbagai pemikiran dan hukum-hukum syariah. Wajib hukumnya bagi setiap muslim melakukannya dan bersikap istiqamah. Wajib konsisten dalam seluruh pemikiran dan hukum-hukum syariah, tanpa pilih dan pilah. Jalan perjuangan dalam ukhuwah dan jama’ah. Untuk itu semua, dakwah perlu ilmu dan tsaqafah, melipatgandakan ikhtiar untuk terus berbenah, hingga semua argumentasi batil batal dan musnah. 

"Katakan hai Muhammad: ‘Inilah jalanku, aku berdakwah menyeru manusia kepada Allah di atas bukti yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku, Maha Suci Allah, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.” (QS Yusuf: 108)

Dakwah adalah perjuangan mulia

Jalan dakwah adalah jalan para  pejuang, jalan agung, mulia dan tinggi derajatnya. Pembencinya sangat bersungguh-sungguh untuk membelokkan dan memutar arah Islam yang mulia. Menggunakan cara yang soft, membujuk dengan harta, tahta, dan wanita, sampai kekerasan luar biasa. 

Pada sirah Nabawiyah, sangat terkenal sabda Rasulullah:

"Demi Allah, seandainya mereka sanggup meletakkan matahari di sebelah (tangan) kananku dan bulan di sebelah (tangan) kiriku, agar aku mau meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan dakwah ini, atau aku hancur karenanya." (HR. Ibnu Hisyam).

Inilah jalan perjuangan, perlu perencanaan dan kehati-hatian. Sebab realitanya, jalan itu tidak lurus bertabur bunga, tetapi berkelok, menikung, menanjak, turunan tajam, dan rawan longsor. Tidak jarang banyak kerikil tajam, runcing, berpotensi menusuk dan menikam. Butuh kehatian-hatian tingkat tinggi dan kewaspadaan. Jika lengah bisa terkelincir, terjatuh, tergoda, dan terperosok ke jurang kemaksiatan. 

Dakwah adalah jalan cinta. Cinta menghendaki semuanya. Cinta sejati adalah cinta pada Allah semata. Cinta perlu pengorbanan dan air mata. Dalam cinta ada bahagia dan nestapa, sebagai penggenap kesempurnaan rasa cinta. Dalam cinta ada suka dan duka, sebagai penguat niat, Azam, optimis, tawakkal dan sikap menerima.

Di jalan itu kita bersama

Ringan dan beratnya jalan dakwah, sangat butuh penyanggah. Itulah teman seiman dan seperjuangan menggapai Jannah. Beratnya beban dakwah membutuhkan sahabat tuk kokohkan langkah. Menguatkan tatkala lemah. Mengingatkan tatkala lengah. Memotivasi, meningkatkan ghirah. Itulah sahabat dalam dakwah, sahabat seayun selangkah dalam hijrah dan berbenah.  

Inilah jalan cinta, kita bertemu, menguatkan iman,  mencintai Allah, dan bersahabat karena aqidah. Seayun selangkah dalam dakwah. Saling mencintai, menasehati, mengunjungi, dan memberi karena Allah. Itulah sahabat taat, memberi syafaat hingga akhirat. Suat persahabatan indah dan langgeng hingga jannah. Dalam hadits qudsi disebutkan:

حقَّتْ محبَّتي على المُتحابِّينَ فيَّ وحقَّتْ محبَّتي على المُتناصِحينَ فيَّ وحقَّت محبَّتي على المُتزاوِرينَ فيَّ وحقَّتْ محبَّتي على المُتباذِلينَ فيَّ وهم على منابرَ مِن نورٍ يغبِطُهم النَّبيُّونَ والصِّدِّيقونَ بمكانِهم

“Berhak mendapatkan kecintaanKu, orang yang saling mencintai karena Aku. berhak mendapatkan kecintaanKu, orang yang saling menasihati karena Aku, berhak mendapatkan kecintaanKu, orang yang saling mengunjungi karena Aku, berhak mendapatkan kecintaanKu, orang yang saling memberi karena Aku. Mereka akan berada di mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang shalih terhadap tempat mereka itu” (HR. Ibnu Hibban).

Salam Ukhuwah..

🌷'Ana uhibbukki Fillah.!"🌷



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak