“Katakanlah:”Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)
Bulan Agustus setiap tahun, menjadi peringatan
kemerdekaan bangsa Indonesia. Warga negara menyambutnya dengan suka cita.
Memasang bendera di depan rumahnya. Mengadakan berbagai lomba. Menyelenggarakan
banyak acara. Melaksanakan upacara bendera. Ada pawai alegoris, ada juga pawai
budaya. Dari kegiatan bermanfaat sampai kegiatan terkesan hura-hura dan
menghabiskan watu dan tenaga. Kata merdeka seolah kehilangan makna. Diperingati
harinya, namun dipertanyakan maknanya.
Dari dulu sampai 75 tahun merdeka, namun terasa seperti itu
saja. Lalu muncul tanya dari jiwa-jiwa yang belum merdeka. Apakah kita sudah
merdeka dalam arti sesungguhnya? Silahkan dijawab suka-suka. Leluasa menjawabnya.
Bebas memberikan jawaban apa. Mau menjawab dalam hati, atau menjawab dengan
tulisan, itu sih terserah kita. Namanya aja merdeka... Saya juga merdeka
mengemukakan pendapat saya. Terlepas orang lain suka atau tidak suka. Asal
jangan menyalahi hukum syarak, jawaban apapun sah-sah saja.
Definisi Merdeka
Merdeka bukan saja bermakna lepas dari intervensi,
dominasi, kolonialisasi dan imperialisasi. Namun merdeka suatu situasi lepas
dari segala bentuk penyembanhan kepada manusia, kemudian beralih menyembah
Allah Rabbul ‘Izzati. Relevan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat al-An’am
ayat 162 “Katakanlah:”Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.” Jadi, manusia merdeka adalah
manusia beramal, beribadah, taat, hanya mengharapkan ridha Allah Subhanahu Wata’ala
.
Merdeka negara adalah negara berdaulat
mengatur dirinya sendiri dengan aturan Ilahi. Bukan aturan yang dibuat insani,
yang memiliki kemampuan terbatas, banyak polemik dan kontroversi. Apalagi ada
intervensi dari para korporatokrasi
dalam dan luar negeri. Ada liberalisasi ekonomi, penguasaan sumber daya alam paling
vital dan urgen untuk rakyat ini. Produk hukum penjajah masih saja diaplikasi. Deislamisasi
berkedok moderasi. Semua barang mahal, persediaan banyak, namun import dari
luar negeri. Ah sudahlah...jika didaftar
jumlahnya banyak sekali.
Merdeka berarti bebas, leluasa, tidak terikat apapun dengan
pihak lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata merdeka
dimaknai bebas (dari penghambaan, penjajahan, dsb); tidak terkena atau lepas
dari tuntutan; tidak terikat; tidak tergantung kepada orang atau pihak tertentu, dan leluasa. Merdeka
identik dengan kata bebas. Bebas dari penghambaan, bebas dari penjajahan, baik
penjajahan fisik (invasi militer) maupun penjajahan non fisik (imperialisme).
Bebas dari penjajahan gaya baru (neo liberalisme), bebas dari ketergantungan
kepada pihak lain.
Merdeka dalam bahasa Arab dikenal dengan kata istiqlal,
artinya al-taharrur wa alkhalas min ayy qaidin wa syatharah ajnabiyyah
(bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain). Merdeka
bersinonim dengan al-hurriyah (kebebasan). Inti dari merdeka adalah
bebas, lepas dari penguasaan pihak lain, dan leluasa mengatur urusan sendiri,
tanpa didikte, ditekan, diintimidasi, dipaksa, dipengaruhi pihak manapun. Jika
masih ada yang mengganggu kebebasan, menekan, mendikte dan mempengaruhi,
mengambil secara soft kedaulatan, berarti belum merdeka kawan...
Makna Merdeka dalam Islam
Kembali diulangi, bahwa manusia merdeka sesungguhnya manusia yang beramal, beribadah, taat, hanya mengharapkan
ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Terbebas
dan lepas dari segala bentuk penyembahan terhadap manusia. Yunus bin Bukair
menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengirim surat
kepada penduduk Najran, di antara isinya berbunyi “Amma bakdu. Aku telah
menyeru kaliah ke penghambaan kepada Allah dari penghambaan kepada hamba
(manusia). Aku pun menyeru kalian ke kekuasaan (wilayah) Allah dari kekuasaan
hamba (manusia)...(Ibn Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah v/553 Maktabah
al-Ma’arij, Beirut).
Demikian juga Rub’i bin Amir adalah sorang
prajurit biasa dalam pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash.
Dia diutus oleh Sang Panglima untuk menyampaikan pesan kepada Komandan Pasukan
Persia, Rustum. “Sungguh Allah mengutus kami, agar kami keluarkan
(merdekakan) manusia dari mengabdikan diri pada sesama manusia kepada
mengabdikan diri kepada Allah, dari kedzaliman agama kepada keadilan Islam, dan
dari kesempitan dunia kepada keluasan dunia dan akhirat.”
Dua surat Rasulullah Shallallahu ‘Alahi
Wasallam di atas mendeskripsikan bahwa melalui Rasulullah menebarkan rahmatan
lil’alamiin. Ditegaskan dalam Qur’an Surat al-Anbiya ayat 107, artinya “Dan
tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh
alam.”Dengan itu pula manusia diajak untuk merdeka dalam arti sesungguhnya.
Ajakan kemerdekaan hakiki menjadi pengulangan ikrar setiap manusia untuk
mengesakan Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana ditegaskan dalam Firman Allah dalam Qur’an
Surat Al-A’raf ayat 172, artinya: “Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan
dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), “Bukankah aku ini
Rabbmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Rabb kami), kami bersaksi.” (Kami
lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan
“Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
Ayat di atas menjadi landasan adanya kemerdekaan sejati
digambarkan bentuk ikrar, sumpah setia seorang hamba sebelum lahir ke dunia. Satu-satunya
proklamasi kemerdekaan adalah pernyataan terhadap adanya Rabb (Pencipta,
Pengatur, dan Pendidik) manusia. Menghendaki ketundukkan dan kepatuhan pada Allah
Subhanahu Wata’ala semata. Tidak ada ketundukkan kepada selain-Nya.
Manusia dilarang keras unduk pada manusia lain, kekuasaan, kekayaan, dan
pekerjaan, aturan, maupun tunduk pada hawa nafsu diri sendiri. Proklamasi ini
semakin dikukuhkan dengan kalimah
syahadat. “Aku bersaksi tiada Ilah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa
nabi Muhammah adalah utusan dan Rasul Allah.”
Dua kalimah syahadat (syahadatain) adalah
proklamasi seorang hamba. Tiada Ilah atau Rabb kecuali Allah.
Kenapa Rabb atau Ilah? Kenapa tidak Tuhan?. Alasannya, kata Tuhan
dalam Bahasa Sansakerta berarti pemimpin para dewa. Tentu kita tidak mau Allah Subhanahu
Wata’ala disamakan dengan pemimpin para dewa, bukan?. Kata Ilah
dirumuskan sebagai alma’budu bil haqqin ilaallah. Kata ini memiliki dua
rukun, yaitu an-nafyu dan al-itsbat yang berarti peniadaan dan
penetapan. An-nafyu (peniadaan) ketika La Ilaha Ilallah membatalkan semua
bentuk kesyirikan. Sedangan kata al-itsbat (penetapan), yaitu menetapkan hanya Allah yang berhak dijadikan
sembahan. Kemudian kata asyhadu anla Ilaha illallah bermakna aku berjanji,
aku bersumpah dan aku bersaksi bahwa aku menolak, meniadakan, mencegah dan
menghancurkan segala bentuk ilah selain Allah, sampai nafas penghabisan.
Selanjutnya asyhadu anna Muhammadar Rasulullah bermakna aku berjanji,
aku bersumpah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah sebagai
teladan pertama dan utama dalam kehidupan.
Kalimah syahadat bukan sebatas ikrar di lisan, tetapi harus teraktualisasi dalam semua aktivitas kehidupan. Mulai urusan sederhana
sampai urusan kompleks. Mengotimalkan semua urusan wajib dan sunnah, jangan
terlalu disibukkan dengan urusan mubah, dan harus meninggalkan semua urusan
makhruh dan haram. Intinya, manusia secara fitrah diciptakan dan diposisikan
Allah merdeka
Kesimpulan
Semua manusia merdeka dari segala bentuk penyembahan
terhadap manusia lain. Memurnikan penyembahan hanya kepada Allah Subhanahu
Wata’ala semata. Jika terjadi imperialisai, neoliberalisasi, intervensi
dari pihak lain, berarti kita belum merdeka. Apalagi merdeka menurut makna
sesungguhnya. Akhirnya kita paham bahwa merdeka bukan selisik kata-kata indah tanpa arti, isi dan esensi, tapi benar-benar
dipahami dan diperjuangkan, hingga manusia terlahir merdeka benar-benar nyata.
Wallahi A’lam Bisshawab.