Qanaah itu Indah


Hidup adalah perjalanan antara kelahiran dan kematian. Di  tengah-tengahnya berisi pengabdian dan ketaatan. Berasal dari Allah Yang Maha Menciptakan. Akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan. 

Inilah visi abadi. Penciptaan manusia di bumi. Tiada lain, kecuali untuk menyembah Ilahi Rabbi. Tanpa pamrih dan tanpa pretensi.  "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku..” (QS Adzdzariyat :56)

Ayat itu terpampang di pelupuk mata. Menggugah hati untuk selalu waspada. Hati-hati agar tidak tergoda rayuan gombal dunia. Kemilau kenikmatan dunia, membuat banyak mata terpukau dan terlena. Hingga dengan suka rela memilih hidup suka-suka. Asalkan senang, enjoy, dan bahagia. Hidup bebas pun sah-sah saja. 

Jika ditengok atau dinapaktilasi masa lalu. Banyak khilaf, dosa, dan perbuatan abu-abu. Kadang menyakiti orang lain tanpa ragu. Berbuat maksiat tanpa rasa malu. Keluar rumah tanpa jilbab (gamis) dan kerudung (Khimar) tidak ragu. Islam hanya pengisi kolom agama di KTPku. Kadang bolong dan terlambat  shalat lima waktu. Anehnya aku menganggap biasa saja, karena banyak muslimah seperti itu. Dosa gunjing dan riba dianggap angin lalu. 

Miliki Seperlunya Bukan Segalanya

Dulu sering mengoleksi barang-barang kesukaan. Dari sepatu, sendal, tas, baju, kerudung, kaos kaki dan lain-lain, yang lagi trend kekinian. Banyak barang yang dikumpulkan. Keinginan ketika itu bisa bergaya styling, fashionable, dan terkesan metropolitan. Merasa benda-benda tersebut representatif bagi kemuliaan. Ada anggapan semua barang-barang itu penentu kebahagiaan. 

Sampai menikah dan bekerja, kebiasaan itu selalu terbawa. Shopping dan belanja jadi hobi utama. Terpengaruh gaya hidup kaum sosialita.  Setiap ada barang baru ditawarkan teman sekantor, langsung dilihat, ditawar, dan belanja. Setelah dibeli, bingung sendiri, harus meletakkan di mana. 

Sampai suatu hari hidayah itu datang. Lewat sahabat shalihah berpikiran cemerlang. Memperkenalkan hakikat hidup, dan arti masa dulu, kini dan masa datang. Hidup tidak sekadar hidup, tetapi hidup adalah berjuang. Berjuang untuk taat, tidak alang kepalang. Kita tidak paham usia kita pendek atau panjang. Jika tidak segera berbenah, di akhirat akan jadi penyesalan panjang. Ketika itu sayangnya hidup tidak bisa diulang. 

Katanya mencari makna hidup itu penting. Agar kita tidak terombang-ambing. Tidak jelas haluan dam pelabuhan penting. Tenggelam 1dalam kenikmatan dunia fana yang kelihatannya garing. Akhirnya eling. Jika aku tidak memiliki visi, misi, dan arti hidup, apa bedanya hidupku dengan kambing. Lahir, makan, cari makan, buang air, seksual, melahirkan, tua, mati, hanya itu yang  berkeliling. 

Sejak itu mulai berbenah diri. Menghayati semua pikir, tutur, laku, dan barang yang kumiliki. Mencoba merancang visi, misi, dan arti hidup di dunia ini. Hidup diciptakan Ilahi. Di sini,di dunia ini semata  beribadah meraih Ridha Ilahi. Persiapkan bekal taqwa, iman, dan amal shalih untuk kembali. Sebab di akhirat ada akuntabilitas semua perbuatan di dunia ini. 

Jika direnungkan, tidak banyak yang dibutuhkan dalam kehidupan. Hanya makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal milik sendiri atau kontrakan. Tidak masalah kontrakan yang penting nyaman. Mudah untuk beribadah dan menjauhi semua kemaksiatan. Penuh ketenangan dan keberkahan. Keberkahan adalah imam dari semua kepemilikkan. Keberkahan menjadi starting point kedekatan diri kepada Sang Maha Rahman. Sebab dengan keberkahan Ridha Ilahi mudah didapatkan. 

Pernah suatu hari terbaca tulisan guru di media massa, tentang hidup minimalis bunda Aisyah radhiallahu 'Anha. Aku baca kata perkata.  Ternyata bunda Aisyah hidup sederhana. Memiliki rumah seluas empat kali kuburan saja. Beberapa potongan pakaian yang diperlukannya. Minim perabotan dan barang mewah dan berharga. Hingga hari-hari beliau tidak disibukkan dengan mengatur rumah, perabotan dan aksesoris lainnya. Mayoritas waktu bisa untuk belajar, menghafal ayat dan hadits, belajar fiqh, dan ilmu pengetahuan lainnya. Hingga dalam sejarah beliau dikenang sebagai wanita hebat dalam jasa dan karya. 

Ya Rabb, betapa malunya diri ini. Sejak kecil hingga dewasa suka mengoleksi. Rela mengencangkan ikat pinggang asalkan barang tertentu bisa dibeli. Semuanya serba berlemari. Jilbab selemari, Khimar selamari, tas selemari, sepatu dan sandal selemari. Bahkan aksesoris pun selemari. 

Paling mirisnya diri. Main ke rumah tetangga sibuk lihat sana-sini. Tanpa sadar membandingkan barang-barang yang dimiliki, kondisi hidup yang dijalani,  anak dilihat secara prestasi. Semua sisi kalau bisa dikomparasi. Tanpa sadar kecenderungan mengkomparasi diri jadi tradisi. Padahal perbuatan tidak terpuji. Membuat nikmat Allah lupa disyukuri. Padahal setiap insan punya kesejatian, keunikan dan kekhassan dalam segala segi. 

Aku membaca kisah shalafus shaleh yang qonaah ini. Meletakkan harta hanya di tangan bukan di hati. Islam membolehkan umatnya kaya, asalkan kaya itu makin dekat kepada Ilahi. Seperti Abdurrahman bin Auf, kaya raya dan hartanya digunakan membela agama Allah Yang Maha Pemberi. Khadijah binti Khuwailid menghabiskan hartanya untuk dakwah Nabi.

Namun satu hal yang ditakuti. Jika tergelincir dengan barang yang kumiliki. Terbersit membanggakan diri. Merasa diri paling mulia dan lebih. Menghina orang lain karena kelebihan dunia yang dimiliki. Merasa diri dengan orang lain tidak satu frekuensi. Ya Rabb...maafkan hamba ini.

Semua barang yang dimiliki akan diminta pertanggungjawaban. Dari mana didapatkan, untuk apa dipergunakan. Semua barang akan ditanya penggunaannya di hari penghisaban. Apa hujjahku tentang semua barang itu di pengadilan. Aku tidak seujung kuku keimanan Abdurrahman bin Auf Seorang sahabat kenamaan. Diberitahu Rasulullah, semua sahabat masuk surga, beliau masuk surga juga, namun dengan merangkak dan sangat pelan. Maka hisab pemilik banyak barang lebih lama dibandingkan dengan barang minimalisan.

Inner Beauty yang Perlu 

Cantik boleh tabarruj jangan. Kata ini memancing akal untuk memikirkan.Tabarruj (berdandan, bersolek dan memperlihatkan perhiasan). Cantik adalah memiliki daya tarik fisik, anggun, indah dan menawan. Cantik dan tabarruj memiliki perbedaan. 

Cantik sejati terdapat pada kepribadian. Iman kokoh, ibadah shahih, taat syariah, dan akhlak mengagumkan. Air wudhlu' memancar di wajah penuh rasa malu, bagus pengetahuan dan pemahaman. Cukup itu yang membuat muslimah menawan. Tidak perlu mati-matian merombak ciptaan. Kecuali ada alasan syar'i, dan kesehatan. 

Jangan gunakan standar jahiliyah  dengan bersolek agar terlihat molek dan menarik. Menghentakkan kaki agar terdengar gemerincing gelang kaki meraih simpatik. Semua itu terlarang dalam al-Qur'an agar muslimah terjaga, laksana barang antik. 

Only for you my husband konsep bersolek yang dibolehkan. Di samping menambah rasa cinta, juga memperbesar pundi-pundi kebaikan (pahala). Sebab muslimah shalihah adalah sebaik-baik perhiasan. Muslimah pemalu, cerdas, beriman teguh, dan mampu menjaga muru'ah, iffah dan izzahnya secara berkesinambungan.

Kecantikan fisik cepat berganti, kecantikan hati lebih berarti. Tidak terlalu sulit menemukan wanita cantik fisik, tapi tak cantik hati. Kadang rela melanggar aturan Ilahi, demi gengsi.  Enggan menggunakan pakaian syar'i. Melenggak lenggok di depan lelaki bukan mahrom, demi mencari pundi-pundi. Asalkan dapat materi, melanggar agama pun tidak peduli. 

Terlalu langka mencari muslimah shalihah, anggun, pemalu, sopan, santun, dan berakhlak mulia. Boleh cantik fisik asal dibarengi dengan kecantikan hati, itu lebih utama. Hindari keadaan sudah tidak cantik fisik, hati pun penuh tidak mulia. Rugi dua-duanya. 

Istiqamah hidup bersahaja

Seandainya aku memiliki telinga tipis, sudah lama aku stres dan menderita. Banyak sudah kata-kata hinaan, ejekan, dan merendahkan diterima. Seakan hidup sederhana dan bersahaja, yang lebih ringan enjoy dan tenang, di pandang percuma.

"Percuma pasutri pegawai, mobil butut tidak punya."

"Percuma pasutri bekerja, jika rumah sempit, kecil, bikin sesak nafas dan tidak bisa apa-apa."

"Percuma suami kepala, jika ke kantor pakai sepeda motor Yamaha. Pegawai biasa aja,  sudah punya mobil mewah."

"Percuma golongan tiga d,  punya rumah kecil. Rumah tetangga besar semua, tapi kenapa rumah ini kecil amat ya.?

Itu semua bagiku tidak persoalan. Memilih hidup sederhana tanpa hutang riba, lebih membahagiakan. Dibandingkan terlihat kaya tapi melanggar aturan Al-Qur'an. Pernah mendapat saran dari ibu kompleks perumahan.

"Kita harus punya perencanaan, kapan buat rumah, rumah sebesar dan seperti apa. Saya dulu begitu, ketika lima tahun pertama jadi pegawai buat rumah besar dulu, setelah anak-anak sekolah kita tinggal ngutang untuk sekolah anak. Kalau kayak gini tentu repot, susah, anak sudah besar, biayanya mahal, dan lebih banyak biaya ke anak, kapan lagi bisa memperbaiki rumah."

Setiap komentar tentang hidup sederhana. Aku memilih tidak mengomentarinya. Cukup pahami saja, setiap orang punya mulut, dan setiap orang bebas menilai, menghakimi, dan berkomentar tentang apa saja. Terlepas apakah itu boleh atau tidak boleh menurut agama.

Berkali-kali mendapat saran agar rumahku diluaskan. Ditambah ke samping atau ditingkatkan. Ada lagi teman yang sangat perhatian.  Setiap bertemu selalu ditanya kapan beli kenderaan. Agar gaji salah satu kami,  dimatikan. Artinya digunakan untuk membayar cicilan kenderaan. Hanya satu gaji saja, gaji suami atau gaji istri untuk operasional kehidupan perbulan. 

Ada juga yang menyarankan agar mobil kami beli. Bisa piknik atau jalan-jalan sana sini. Pulkam tidak perlu susah menunggu angkutan umum lagi. Bisa juga meningkatkan gengsi. Agar kita lebih dihormati. 

Bukan aku tidak mau menerima saran teman-teman. Kupersepsi semua itu bentuk kepedulian. Meskipun ada yang terkesan merendahkan. 

Tidak masalah tidak punya rumah. Mengontrak pun tidak masalah. Punya rumah tipe R5S (Rumah Sempit, Sumpek, Sangat Sederhana, Sekali), Alhamdulillah. Hal terpenting adalah Fungsi rumah sama saja, antara rumah kecil sederhana dan rumah mewah. Di dalamnya   yang penting bisa beribadah dan bermunajat kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Hidup sederhana jadi pilihan orang setelah hijrah.

Gamis, Khimar, tas, sepatu, dan asesoris. Miliki Seperlunya saja, lebih ekonomis. Mencoba hidup lebih realistis. Antara income dan belanja lebih simetris.  Tidak besar pasak dari pada tiang, membuat hati miris. Lebih miris lagi jika dosa riba yang memiliki 73 pintu, menciderai ideologis. 

Islam membolehkan hidup kaya asalkan berkah dan rajin bersedekah. Kekayaan itu menjadi wasilah untuk lebih dekat kepada Allah. Lebih tawadhu', dermawan, dan berpihak pada umat yang lemah. Tidak lantas ketika kaya menganggap insan lain rendah. Karena kaya adalah amanah. Kaya juga ujian keimanan, apakah kita lulus ketika diuji dengan kaya, malah justru makin pongah. 

Hidup sederhana itu pilihan. Sebab hidup sederhana itu lebih ringan, dan tidak panjang angan-angan. Terhindar dari penyakit wahn. Apa itu wahn?, yaitu cinta dunia dan takut kematian. Padahal kematian suatu kepastian. Hal terpenting adalah persiapan menghadapi kematian. Kuat iman, banyak pahala dan kuat ketaqwaan. 

 Benar kata orang bijak, hijrah itu mudah, istiqamah itu sulit sekali. Apalagi mempertahankan hidayah di tengah derasnya arus materialis dan hedonisme ini. Kemuliaan manusia diukur dengan kepemilikkan materi. Semakin banyak materi semakin dihormati. Semakin tidak ada materi semakin tidak dihargai. 

Itulah hebatnya sistem kapitalisme.  Menstimuli orang untuk konsumtif atau konsumerisme. Difasilitasi dengan kredit tanpa agunan bak rente. Sehingga bisa beli barang, meskipun kere. Ketika tak mampu bayar, ada agunan disita tanpa reserve. 

Lebih hebat lagi sitem ekonomi neoliberal. Dikenal dengan ekonomi triple helix,  memuluskan kepentingan para korporatokrasi atau pemodal. Semua bisa jadi komoditi, barang jasa, perempuan, tak peduli barang halal atau haram yang penting menguntungkan secara finansial. Bursa saham jadi incaran, padahal itu piranti  kapitalis mengendalikan keuangan dan kapital. 

Beranjak dari pendapat di atas, alangkah mulianya sikap qana'ah. Di samping bisa taat syariah. Hidup berkah, mudah memahami makrifah. Senantiasa gampang menemukan hikmah. Ada nikmat beribadah. Do'a-do'a lebih mudah diijabah. Tiada hidup  paling indah, selain dekat dengan Rabb yang Maha Rahmah. 

Semoga meninggal Husnul khatimah, terhindar fitnah dan azab barzakh. Kuburan menjadi tamannya Jannah. Mudah dibangkitkan, dan dapat syafaah. Ringan hisabnya dan mulus semua proses menuju Jannah. Aamiin ya Allah.

Bumi Allah, 18 September 2020

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak