Kadang ada orang terobsesi dengan sederet gelar pada diri. Dari gelar akademik sampai gelar agama seperti haji. Di suatu stasiun televisi, seorang ibu bertanya pada ustadzah dengan menyebutkan perkenalkan saya bu haji. Seketika sang ustadzah langsung memarahi. Jangan sombong dengan gelar haji, bagaimana dengan rukun shalat, puasa dan zakat, apakah itu harus diikursertakan menjadi gelar diri.
Gelar hanya bonus dari proses yang dilakukan, namun bukan refleksi dari kemampuan. Skill dan keterampilannya tidak semantereng gelar yang rekatkan. Akhlak tidak seindah gelar, kadang terkesan arogan terhadap orang yang memiliki kelemahan. Bagusnya berkaca dari kisah Imam Abu Hanifah tentang gelar berpotensi menggelincirkan.
Numan
bin Tsabit atau yang biasa kita kenal dengan Abu Hanifah, atau populer disebut
Imam Hanafi, pernah berpapasan dengan anak kecil yg berjalan mengenakan sepatu
kayu.
Sang imam berkata : "Hati-hati Nak dengan sepatu kayumu itu, jangan
sampai kau tergelincir"
Bocah ini pun tersenyum dan mengucapkan: "Terima
kasih atas perhatian Abu Hanifah."
"Bolehkah saya tahu namamu Tuan?" tanya si bocah.
"Nu'man namaku", Jawab sang imam.
"Jadi, Tuanlah yang selama ini terkenal dengan
gelar al-imam al-a'dhom (Imam agung) itu..??" Tanya si bocah.
"Bukan aku yang memberi gelar itu, masyarakatlah
yang berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku."
"Wahai Imam, hati - hati dengan gelarmu.
Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka karena gelar...!"Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku
di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke dalam api yang kekal jika
kesombongan dan keangkuhan menyertainya."
Ulama besar yang diikuti banyak umat Islam itupun
tersungkur menangis. Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) bersyukur. Siapa sangka,
peringatan datang dari lidah seorang bocah.
Betapa banyak manusia tertipu karena jabatan,
tertipu karena kedudukan, tertipu karena gelar, tertipu karena kemaqoman,
tertipu karena status sosial...
Jangan sampai kita tergelincir... jadi angkuh dan
sombong karena gelar, jabatan, status sosial dan kebesaran di dunia
Sepasang tangan yang menarikmu kala terjatuh lebih
harus kau percayai daripada seribu tangan yg menyambutmu kala tiba di puncak
kesuksesan.
Hubungilah sahabatmu, sahabat yg baik adalah lentera di kegelapan, kadang cahayanya baru terasa ketika dunia dunia dalam kegelapan.
Salam ukhuwah
Darimis
Tags
Nafsiyah